buku: Jejak Tinju Pak Kiai


Latah pengin ikut-ikutan membahas buku yang baru dibaca maka saya aing memulai dari buku ini. Oya, aing bukannya ingin mereviu buku, seperti yang banyak terdapat di blog tetangga, aing hanya ingin mencoba membahasakan apa yang aing rasakan sewaktu dan setelah membaca suatu buku.

Ini buku berisi kumpulan tulisan Cak Nun (terima kasih Tuhan, masih ada orang seperti beliau). Selain tentang Pilgub Jatim, Pasar Turi, juga ada ihwal timur tengah semisal tradisi Syiah, kerajaan Saudi yang melenggang saja ketika Irak dibombardir Pasukan Koalisi (dalam beberapa hal artikel ini relevan dengan yang sekarang terjadi di Jalur Gaza.

Buku ini diselesaikan membaca sembari merender video tutorial aplikasi manajemen pemeriksaan, yang ketika Rapat Koordinasi di Denpasar sepertinya belum sempat digabungkan antara audio dan visualnya (butuh lebih dari tiga jam hanya untuk merender video berdurasi 53 menit menggunakan Adobe Premier :(). Okay, i’m desperate, i used Windows Movie Maker now, it just about 30 minutes to do that thing, lagian juga cuma pengen ngegabungin audio sama visualnya, ga ngasih efek macem-macem di videonya.

Selain tentang hal-hal di atas, ada juga beberapa artikel yang mengikutsertakan setan, ya setan yang itu. Ada satu bagian yang mengatakan bahwa “setan bilang kepada saya: ‘Tidak ada tantangan lagi, Manusia bukan tandingan setan sama sekali. Manusia sangat mudah kami kendalikan. Sangat tidak memiliki kepegasan dan ketahanan untuk mempertahankan kemanusiaannya. Sungguh sudah tidak menarik lagi bertugas sebagai setan…‘” Nah lo?

Cak Nun selalu membawa perspektif baru bagi aing, tiap tulisannya membius dan menyadarkan.

Setiap kali membaca tulisan Cak Nun, aing selalu merasa kembali disadarkan bahwa dalam hidup ini kita mengemban tugas dari Tuhan. Apakah kita sudah sesuai dengan tujuan penciptaan kita? Apakah tangan ini telah dimanfaatkan seperti yang semestinya, apa mata sudah diberdayakan sebagaimana Tuhan inginkan? Banyak sekali pertanyaan-pertanyaan semisal itu yang jawabannya “tidak”.

  1. cuma mampir bentar, blm mbaca..

    baca juga “Hafalan Shalat Delisa”…
    aku tidak punya kata-kata yang pas buat menggambarkannya

  2. satu bukti bahwa pendidikan formal tak menjamin melahirkan seorang manusia yang sadar kehadirannya untuk iqro’. Apalagi pendidikan kini yang justru dijadikan perusahaan, maka lahirlah anak generasi yang sepak terjangnya cenderung ditakar melalui uang. Survei membuktikan, adakah pekerja sosial yg dilahirkan dari bangku sekolah jurusan sosial ? Yang peduli rakyat justru banyak datang dari orang orang tak ‘sekolahan’, apalagi sekolah megah, sekolah unggulan, meski tentu bukan lantas institusi pendidikan tak bermanfaat. Justru sangat bermanfaat meski sering tak bermartabat, lha wong malah korupsi. Sesudah beroleh ilmu, beroleh cahaya bukan menerangi malah menggelapi…

    Meski tetap ada juga orang sekolahan yang berjasa dan tetap memiliki filosofi bahwa hidup adalah bekerja dan bekerja adalah ibadah, tak selalu harus ditakar melalui upah dan uang…

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: