HP dx2700

Niatan cuma ingin memasang speaker di komputer kepala sekretariat perwakilan, malah jadi harus berurusan dengan instalasi Windows Vista di komputer itu.

Tuhan selalu punya cara agar kita belajar.

Iklan

Bermanfaat

Yang utama dalam hidup adalah bagaimana kita menikmatinya, dan tak lupa harus bermanfaat dan bernilai, sesederhana itu.

Meski terkesan bahwa saya aing ingin mengatakan bahwa hidup tidak perlu pencapaian, sebenarnya menurut aing hidup justru harus punya cita-cita (atau mungkin ambisi-sampai pada tingkat tertentu).

Kita tahu “kekuatan besar datang bersama tanggungjawab besar“, karena itu aing ingin bilang bahwa kita perlu memiliki kekuatan yang lebih besar dari sekarang untuk dapat memperbesar manfaat kita. Dengan memiliki kekuatan lebih, kita bisa membantu lebih banyak orang, dapat bermanfaat kepada lebih banyak orang. Kekuatan bisa berupa ilmu atau keterampilan, kekuasaan, kekayaan, atau hal lainnya.

Namun sekali lagi, kekuatan itu hanyalah sarana untuk kita dapat lebih bernilai, bermanfaat untuk orang lain. Karena itu dalam rangka mendapatkannya kita tidak perlu melanggar norma-norma yang ada. Jadi kontradiktif bila niatan kita agar dapat hidup lebih mulia, namun cara-cara yang kita gunakan sama sekali tidak pantas dimasukkan sebagai hal yang terpuji.

Jadi marilah berlomba-lomba memperkuat diri dengan cara yang terpuji agar hidup lebih berarti, tidak perlu risau mengenai bagaimana nanti, bila niat kita baik dan jalan yang ditempuh terpuji, Tuhan pasti tepati janji-rima yang bagus haha.

RSA, 2nd

RSA

Ron (R)ivest, Adi (S)hamir, Leonard (A)dleman
Sebenarnya sederhana saja enkripsi ini.

Bila:
x = teks yang akan dienkripsi
y = teks setelah enkripsi

Maka:
y = xe mod r

Untuk Mengembalikan teks,
x = yd mod r

dimana 0 < x < (r-1)
Sederhana, bukan? HaHa

Oke, kita mungkin tahu apa itu x, apa itu y. Tapi bagaimana dengan e, d, dan r?

  1. Tentukan bilangan p dan q, dua bilangan ini adalah bilangan prima
  2. Hitung r = p . q
  3. Hitung Ø(r) = (p – 1) (q – 1)
  4. Tentukan e yang relatif prima terhadap Ø(r), bilangan e dan Ø(r) dikatakan relatif prima jika terdapat s dan t sehingga berlaku s . e + t . Ø(r) = 1 dimana s dan t adalah bilangan bulat (baik positif maupun negatif). Oya, ada dua syarat lagi, yaitu e haruslah bilangan bulat positif dan lebih kecil dari r
  5. Hitung d dengan rumus
    d = 1 + (k Ø(r))

    e

    k adalah bilangan bulat positif (1, 2, 3, dst). Coba nilai k sampai didapatkan nilai d yang bulat.

  6. Oke, kita sudah punya e, d, dan r.

Baiklah, bagaimana kalau kita mempraktekkan, dengan angka yang kecil tentu saja. HaHa

  1. p = 3
    q = 5
    (sebaiknya p dan q adalah dua bilangan yang berbeda, karena bila p = q maka p adalah akar pangkat dua dari r)
  2. r = 3 . 5
    r = 15
  3. Ø(r) = (3 – 1) (5 – 1)
    Ø(r) = (2) (4)
    Ø(r) = 8
  4. e = 3, kita uji coba dengan rumus s . e + t . Ø(r) = 1
    bila s = 3, e = 3, t= (-1), Ø(r) = 8
    3 . 3 + (-1) . 8 = 1
    9 – 8 = 1

    dimana e < r
  5. Menghitung d
    d = 1 + (1 . 8)

    3

    d = 3

  6. e = 3
    d = 3
    r = 15
  7. Bila x = 12
    y = 123 mod 15
    y = 3
  8. Untuk mengembalikan teks,
    x = 33 mod 15
    x = 12

Cukup mudah, bukan?
Dalam praktek, p dan q haruslah dipilih bilangan prima yang besar. Untuk x bisa didapatkan dari kode ASCII pesan yang akan dienkripsi.

Panduan didapatkan dari buku Kriptografi yang ditulis dengan baik oleh pak Rinaldi Munir. Terima kasih juga kepada ipin untuk panduan mendapatkan bilangan relatif prima.

RSA, 1st

Beberapa hari yang lalu saya aing googling mencari tutorial ajax eh malah ketemu ini. Baca sebentar tapi tidak terlalu dimasukkan di hati-halah. Kemarin chat dengan teman yang sedang develop web, trus kepikiran tentang artikel itu. Setelah share dengan teman tersebut, jadi tergelitik (diksi apa ini??) untuk mencoba implementasi pengamanan tambahan pada halaman login seperti yang diterangkan pada artikel itu.

Oya, inti dari artikel itu adalah prosedur login halaman (atau aplikasi) web yang jamak dilakukan sekarang, yaitu memasukkan username dan password (protokol yang digunakan adalah http) kemudian username dan password tersebut dikirimkan sebagai plain text ke server web tersebut untuk selanjutnya password dikonversi dengan md5 dan bersama-sama dengan user name, dicocokkan dengan database di server.

Apa yang jadi soal? Yang jadi soal adalah plain text itu, karena username dan password dikirim sebagai plaint text besar kemungkinan dicuri (percayalah ada saja orang yang mau melakukan hal ini) pada saat data itu mengalir melewati jaringan. Solusinya, diberikan keamanan tambahan pada halaman login tersebut dengan Javascript. Jadi sebelum username dan password dikirimkan, data itu dienkripsi dengan Asymmetric Key agar -setidaknya- menyulitkan orang yang menangkap data kita.

So sepulang dari kantor, langsung buka-buka buku Kriptografi karangan Pak Rinaldi Munir lagi. Sebenarnya sudah beli buku ini dari tahun lalu, tapi baru dibuka sekarang-haha.

baca buku Kriptografi sebentar, googling mencari mencari source code RSA siap pakai, kemudian baca-baca lagi buku, coba ngetik source code, ketiduran-hahaha.

Subuh setelah shalat (jangan lupa shalat, aing) mulai ngetik lagi tapi sampai tulisan ini dibuat, belum selesai juga algoritma RSAnya.

Oya, konversi desimal ke bilangan biner aing dapatkan di sini.

Motherboard ECS

Oke, tulisan pendek hari ini.

aing punya pengalaman buruk dengan papan induk merk ECS. Dua komputer rakitan aing yang menggunakan papan induk merk itu selalu saja kurang bagus performanya.

Komputer yang pertama waktu kuliah, aing lupa apa yang bikin sebel, tapi ingat bagian sebelnya aja-halah.

Yang kedua, komputernya suka banget hang. Awalnya begini beban komputer aing:

  • RAM: 512MB PC 3200 + 256MB PC 2700 (kurang bagus memang, perpaduan ini)
  • Modem Dial-Up
  • Dua Kartu Jaringan
  • Kartu Firewire
  • Optical Drive: DVD-ROM + CD-RW
  • Hard Disk: 40GB + 250GB
  • Sistem Operasi: Windows XP

Running well tapi belakangan suka hang, bengong se bengong bengongnya itu komputer. Akhirnya aing reduksi jadi:

  • RAM: 256MB PC 2700
  • Dua Kartu Jaringan
  • Optical Drive: DVD-ROM
  • Hard Disk: 80GB
  • Sistem Operasi: Windows XP

tetep hang juga. Ganti Fedora 10, Ubuntu tetep aja hang.

Copot pasang Prosessor juga tidak membuahkan hasil, malah setelah prosedur ini dilakukan, komputer jadi sering langsung mati, tanpa hang, langsung saja mati.

aing tidak antipati terhadap merk ECS, cuma aing dua kali punya komputer berpapan induk merk ini, dua kali juga aing punya keluhan terhadap produk tersebut. ECS memang menawarkan harga yang relatif murah ketimbang yang lainnya, namun setelah pemakaian agak lama, performanya menurun, malah sampai pada tingkatan tertentu, mengganggu.

Tulisan Pendek

Lama tidak posting, males bawaannya. Harus mikir untuk nulis panjang-panjang. Liat literatur, buka website lain untuk pranala-nya.

Karena itu saya aing akan mulai untuk posting pendek-pendek saja, tapi teratur. Minimal untuk mendokumentasikan apa yang sudah dilakukan hari itu.

Opera Kampus Kaligawe

opera-depan1 opera-belakang

Ini novel karya seorang dokter, menceritakan tentang Sibeng seorang mahasiswa kedokteran di sebuah universitas di Semarang (kayaknya sih ni cerita pribadi si dokter).

Sayangnya novel yang aing beli, memiliki dua halaman 7-8 (rangkap halaman) dan sebagai kompensasinya aing kehilangan halaman 9-10 dan 15-16 =(. Jadi kurang nyaman membaca novel ini.

Sebenarnya ini cerita biasa saja, tentang kehidupan seorang mahasiswa, ya semacam cerita Lupus, Olga gitu deh. Cerita Sibeng sendiri terjadi sekitar tahun 1990-an, jadi tidak heran kalau gaya bahasa dan genrenya mirip (aing tidak benar-benar tahu apa itu genre, tapi kayaknya keren aja kalau pakai kata ini) dengan Lupus atau yang semisal dengannya. Pada beberapa bagian tokoh-tokoh “jadul” seperti penyanyi Pance Pondang, pelawak Darto Helm, pesepakbola Ribut Waidi, dan juga anggota Srimulat sering disebut-sebut (sayang grup Srimulat sudah tiada). Banyak juga istilah, atau petikan iklan yang tidak aing pahami, mungkin isu-isu tersebut yang sedang tren pada masa itu. Namun sesungguhnya inilah kekuatan dari novel ini karena menunjukkan keorisinilan cerita.

Yang mengganjal dari novel ini adalah terlalu banyak plesetan-plesetan jayus seperti “Kalian tau balapan, nggak? Balapan itu sayuran mentah yang dimakan!” ato “Ngomong-ngomong, pernah dengar cerita terkenal soal kancing? Judulnya Kancing Nyolong Timun, he… he…” ato “… Tapi sebelumnya, cuci dulu tangan dan wajahmu dengan oli, eh… sabun” argghhh!!!. Satu dua kali jayus okelah, tapi kalau banyak, kayaknya nggak deh, makasih.

Selain yang jayus, kadang penulis menyertakan hal-hal kekinian yang terasa kurang pas dengan kisah yang terjadi di tahun 1990-an seperti: “Pablo tak menoleh, dia malah menggoyang-goyangkan pantatnya yang tepos. Mungkin dia pikir, dia itu Valentino Rossi, yang pantatnya ditulisi The Doctor…” (pada tahun 1990 Rossi baru jadi Juara kejuaraan karting regional 60cc, 2002 baru Rossi menjadi juara dunia MotoGP) ato “‘Londo! Mainmu hebat, seperti Andre Agassi!’ pujinya. ‘Lho? Kok Andre Agassi? Dia kan pemain tenis??'” (Andre Agassi baru menjadi juara Grand Slam tahun 1992 dan pada 1995 dia menjadi petenis peringkat 1 dunia) ato “‘Burung apa yang terbangnya paling cepat?’ ‘Burungnya Ananda Mikolak, pembalap andalan kita,'” (Ananda Mikola baru masuk Grup N Indonesia pada 1993) ato “‘Siapa yang jorok? Kamu saja yang pikirannya jorok! Makanya jangan salah ucap, kalau salah, jadinya ya itu….’ ‘Itu apa?’ ‘Jadi objeknya Mak Erot!'” (Mak Erot?? Kayaknya baru beberapa tahun belakangan ini Mak Erot Terkenalnya)

Ada juga yang kurang klop, di halaman 89 paragraf 2 baris ke-4 diceritakan seorang teman Sibeng, Dacosta, asal Papua. Tapi di halaman 107 paragraf 1 baris ke-2 dikatakan bawa Dacosta asli impor dari Timor Leste.

Selain itu, pada akhir chapter Ketika Musim Ujian Tiba diceritakan bahwa Sibeng mengalami kebingungan karena pada waktu yang bersamaan dirinya diajak teman-temannya ke Jepara tapi Marlina, pacar Sibeng, mengirim surat yang isinya meminta Sibeng mengunjunginya di Yogja. Tapi di chapter berikutnya, Kisah Seorang Maling Sepatu, malah tidak disinggung sama sekali tentang itu. Baru di chapter berikutnya, Banjir Itu Anugerah Juga, diceritakan bahwa Sibeng baru pulang dari Yogya, menghabiskan waktu bersama Marlina. Itupun tidak diceritakan bagaimana pemecahan masalah dari peristiwa dilematis yang dialaminya pada akhir chapter Ketika Musim Ujian Tiba.

Sebenarnya diluar hal-hal yang mengganjal di atas, novel ini punya potensi untuk jadi novel yang enak dibaca dan perlu. Apalagi untuk mereka-mereka yang senang membaca novel era tahun 80-90an, novel ini memberikan sensasi tersendiri karena seakan-akan kita dikembalikan lagi ke masa-masa itu dengan segala kenangannya.